Rahasia Pahit untuk Kesehatan di Balik Manisnya Cokelat

- 11 Mei 2024, 08:43 WIB
Ilustrasi cokelat
Ilustrasi cokelat /freepic

SELEBRITALK - Cokelat terbuat dari biji pohon kakao theobroma tropis. Penggunaannya yang paling awal dimulai pada peradaban Olmec di Mesoamerika.

Setelah penemuan Benua Amerika dan Eropa, cokelat menjadi sangat populer di dunia luas, dan permintaannya pun terus melonjak.

Cokelat telah menjadi makanan populer yang telah dinikmati jutaan orang setiap hari karena rasanya yang unik, kaya, dan manis.

Kita sudah banyak tahu, manfaat makan cokelat antara lain menurunkan risiko penyakit jantung dan stroke, mendukung fungsi kognitif, dan banyak lagi.

Baca Juga: 6 Manfaat Minum Kopi Hitam Tanpa Gula

Namun, penelitian terbaru tentang cokelat ternyata juga memiliki beberapa efek negatif bagi kesehatan, apalagi bila dikonsumsi berlebihan. Berikut pengaruh makan cokelat terhadap kesehatan kita:

Bikin Berat Badan Naik

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi cokelat dikaitkan dengan indeks massa tubuh (BMI) yang lebih rendah dan pusat lemak tubuh. Namun, cokelat memiliki jumlah kalori yang tinggi karena kandungan gula dan lemaknya.

Siapapun yang sedang mencoba menurunkan berat badan atau mempertahankan berat badan ideal sebaiknya membatasi mengonsumsi cokelat.

Merusak Gigi

Kandungan gula yang tinggi pada sebagian besar produk cokelat juga bisa menjadi penyebab kerusakan gigi.

Bikin Migrain

Beberapa orang mungkin mengalami peningkatan migrain ketika mengonsumsi cokelat secara teratur karena kandungan tyramine, histamin, dan fenilalanin pada kakao. Namun, penelitiannya sendiri cukup beragam.

Bikin Tulang Sakit

Terdapat beberapa bukti bahwa cokelat dapat menyebabkan struktur tulang yang buruk dan osteoporosis.

Hasil sebuah penelitian yang diterbitkan dalam The American Journal of Clinical Nutrition menemukan bahwa wanita lanjut usia yang mengonsumsi cokelat setiap hari memiliki kepadatan dan kekuatan tulang yang lebih rendah.

Memuat Logam Berat

Beberapa bubuk kakao, cokelat batangan, dan biji kakao mungkin mengandung kadmium dan timbal dalam jumlah tinggi, yang beracun bagi ginjal, tulang, dan jaringan tubuh lainnya.

Pada tahun 2017, Consumer Lab menguji 43 produk cokelat dan menemukan bahwa hampir semua bubuk kakao mengandung lebih dari 0,3 mcg kadmium per porsi, jumlah maksimum yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Baca Juga: Manfaat Lavandin Essential Oil, Berasal dari Tanaman Hibrida yang Berfungsi untuk Relaksasi dan Anti Inflamasi

Makan Cokelat Secukupnya

Namun, menurut ulasan tentang efek cokelat terhadap kesehatan yang diterbitkan di Jurnal Kedokteran Belanda, tidak semuanya merupakan berita buruk.

Para penulis menunjukkan penemuan bahwa kakao, bahan utama dalam coklat, mengandung senyawa fenolik yang aktif secara biologis.

Hal ini telah mengubah pandangan masyarakat terhadap cokelat, dan mendorong penelitian mengenai dampaknya terhadap penuaan, serta kondisi seperti stres oksidatif, pengaturan tekanan darah, dan aterosklerosis.

Potensi antioksidan cokelat mungkin memiliki berbagai manfaat kesehatan. Semakin tinggi kandungan kakaonya, seperti pada dark chocolate, semakin banyak pula manfaatnya.

Cokelat hitam mungkin juga mengandung lebih sedikit lemak dan gula, namun penting untuk memeriksa label makanan sebelum memakannya.***

Editor: Nini Sunny

Sumber: medicalnewstoday


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah